Minggu, 02 Februari 2014

LAPORAN PENDAHULUAN GANGGUAN PROSES PIKIR (WAHAM)

LAPORAN PENDAHULUAN
GANGGUAN PROSES PIKIR  (WAHAM)

1.      Masalah Utama :
Perubahan gangguan proses pikir : waham
2.      Pengertian
Waham menurut Maramis (1998), Keliat (1998) dan Ramdi (2000) menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat diubah-ubah.
3.      Proses terjadinya waham
Waham adalah anggapan tentang orang yang hypersensitif, dan mekanisme ego spesifik, reaksi formasi dan penyangkalan. Klien dengan waham, menggunakan mekanisme pertahanan reaksi formasi, penyangkalan dan proyeksi. Pada reaksi formasi, digunakan sebagai pertahanan melawan agresi, kebutuhan, ketergantungan dan perasaan cinta. Kebutuhan akan ketergantungan ditransformasikan menjadi kemandirian yang kokoh. Penyangkalan, digunakan untuk menghindari kesadaran akan kenyataan yang menyakitkan. Proyeksi digunakan untuk melindungi diri dari mengenal impuls yang tidak dapat diterima didalam dirinya sendiri. Hypersensitifitas dan perasaan inferioritas, telah dihipotesiskan menyebabkan reaksi formasi dan proyeksi, waham kebesaran dan superioritas. Waham juga dapat muncul dari hasil pengembangan pikiran rahasia yang menggunakan fantasi sebagai cara untuk meningkatkan harga diri mereka yang terluka. Waham kebesaran merupakan regresi perasaan maha kuasa dari anak-anak, dimana perasaan akan kekuatan yang tidak dapat disangkal dan dihilangkan (Kaplan dan Sadock, 1997).
Cameron, dalam Kaplan dan Sadock, (1997) menggambarkan 7 situasi yang memungkinkan perkembangan waham, yaitu : peningkatan harapan, untuk mendapat terapi sadistik, situasi yang meningkatkan ketidakpercayaan dan kecurigaan, isolasi sosial, situasi yang meningkatkan kecemburuan, situasi yang memungkinkan menurunnya harga diri (harga diri rendah), situasi yang menyebabkan seseorang melihat kecacatan dirinya pada orang lain, situasi yang meningkatkan kemungkinan untuk perenungan tentang arti dan motivasi terhadap sesuatu.
4.      Penyebab waham
Penyebab secara umum dari waham adalah gannguan konsep diri : harga diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan.
5.      Akibat waham
Akibat dari waham klien dapat mengalami kerusakan komunikasi verbal yang ditandai dengan pikiran tidak realistic, flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata yang kurang. Akibat yang lain yang ditimbulkannya adalah beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan.
6.      Manifestasi klinik waham
Berupa : klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan, klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah tersinggung.
7.      Tipe-tipe waham
Menurut Kaplan dan Sadock (1997), tipe-tipe waham antara lain:
a.       Tipe Eritomatik: klien dicintai mati-matian oleh orang lain, biasanya orang yang sangat terkenal, seperti artis, pejabat, atau atasanya. Klien biasanya hidup terisolasi, menarik diri, hidup sendirian dan bekerja dalam pekerjaan yang sederhana.
b.      Tipe kebesaran (magalomania) : yaitu keyakinan bahwa seseorang memiliki bakat, kemampuan, wawasan yang luar biasa, tetapi tidak dapat diketahui.
c.       Waham cemburu, yaitu misalnya cemburu terhadap pasanganya. Tipe ini jarang ditemukan (0,2%) dari pasien psikiatrik. Onset sering mendadak, dan hilang setelah perpisahan/ kematian pasangan. Tipe ini menyebapkan penyiksaan hebat dan fisik yang bermakna terhadap pasangan, dan kemungkinan dapat membunuh pasangan, oleh karena delusinya.
d.      Waham kejar : keyakinan merasa dirinya dikejar-kejar, diikuti oleh orang lain. Tipe ini paling sering ditemukan pada gangguan jiwa. Dapat berbentuk sederhana, ataupun terperinci, dan biasanya berupa tema yang berhubungan difitnah secara kejam, diusik, dihalang-halangi, diracuni, atau dihalangi dalam mengejar tujuan jangka panjang.
e.       Waham tipe somatik atau psikosis hipokondrial monosimptomatik. Perbedaan dengan hipokondrial adalah pada derajat keyakinan yang dimiliki klien. Menetapnya waham somatik yang tidak kacau tanpa adanya gejala psikotik lainya menyatakan gangguan delosional/ waham tipe somatik.

8.      Penatalaksanaan
a.       Psikoterapi
Elemen penting dalam psikoterapi adalah menegakkan hubungan saling percaya. Terapi individu lebih efektif dari pada terapi kelompok. Terapis tidak boleh mendukung ataupun menentang waham, dan tidak boleh terus-menerus membicarakan tentang wahamnya. Terapis harus tepat waktu, jujur dan membuat perjanjian seteratur mungkin. Tujuan yang dikembangkan adalah hubungan yang kuat dan saling percaya dengan klien. Kepuasan yang berlebihan dapat meningkatkan kecurigaan dan permusuhan klien, karena disadari bahwa tidak semua kebutuhan dapat dipenuhi. Terapis perlu menyatakan pada klien bahwa keasyikan dengan wahamnya akan menegangkan diri mereka sendiri dan mengganggu kehidupan konstruktif. Bila klien mulai ragu-ragu dengan wahamnya, terapis dapat meningkatkan tes realitas.
Sehingga terapis perlu bersikap empati terhadap pengalaman internal klien, dan harus mampu menampung semua ungkapan perasaan klien, misalnya dengan berkata : “Anda pasti merasa sangat lelah, mengingat apa yang anda lalui, “tanpa menyetujui setiap mis persepsi wahamnya, sehingga menghilangnya ketegangan klien. Dalam hal ini tujuannya adalah membantu klien memiliki keraguan terhadap persepsinya. Saat klien menjadi kurang kaku, perasaan kelemahan dan inferioritasnya yang menyertai depresi, dapat timbul. Pada saat klien membiarkan perasaan kelemahan memasuki terapi, suatu hubungan terapeutik positif telah ditegakkan dan aktifitas terpeutik dapat dilakukan.
b.      Terapi Keluarga
Pemberian terapi perlu menemui atau mendapatkan keluarga klien, sebagai sekutu dalam proses pengobatan. Keluarga akan memperoleh manfaat dalam membantu ahli terapi dan membantu perawatan klien.

9.      Gambaran Umum Asuhan Keperawatan Gangguan Proses Pikir : waham
a.      PENGKAJIAN
Menurut Rawlins dan Heacock (1993), pengkajian klien dengan gangguan waham meliputi :
                              1)          Dimensi Fisik
(1)   Riwayat aktivitas sehari-hari :
a)    Nutrisi : nutrisi tak adekuat pada waham kejar
b)   Tidur : adanya gangguan tidur, oleh karena takut ada bahaya yang mengancam.
c)    Rekreasi, hobby dan minat : penurunan minat, karena asyik dengan wahamnya
d)   Aktivitas sosial : disfungsi, berlebihan atau tidak pantas.
e)    Kebersihan diri : penurunan minat dalam kebersihan diri


(2)   Kebiasaan / kepatuhan terhadap pengobatan
Klien menolak minum obat dan medikasi. Pada waham kejar kadang-kadang klien mau melaksanakan program pengobatan sesuai petunjuk, karena merasa ada bahaya bila tidak menuruti
(3)   Perilaku merusak
Kurang kontrol diri/ impuls
Ada percobaan bunuh diri
Ada usaha untuk membunuh orang lain
(4)   Riwayat kesehatan
Ada tidaknya penyakit skizofrenia, penyakit organik/ sistemik, intoksikasi obat, kerusakan otak dan kehilangan fungsi pendengaran.
(5)   Pemeriksaan fisik
Pada waham yang berhubungan dengan somatik, klien akan mengeluh adanya sesuatu dalam tubuhnya sesuai wahamnya.

                              2)          Dimensi intelektual
Waham yang menetap tidak dapat diubah secara logis. Perubahan persepsi terjadi karena adanya waham curiga, religius, dan somatik, rusak dan lemahnya dalam mengambil keputusan, insight (daya tilik diri) jelek, ketidakmampuan berpikir abstrak, pikiran terfokuskan pada waham, ada ide bunuh diri/ membunuh orang lain, penggunaan mekanisme defensif, seperti proyeksi dan regresif.
                              3)          Dimensi emosional
Afek yang tidak sesuai, datar atau tumpul, adanya perasaan takut terhadap sesuatu yang diwujudkan dalam perilaku menolak dan isolasi diri, adanya perasaan curiga dan tidak percaya, bermusuhan atau mudah marah.
                              4)          Dimensi spiritual
Adanya kepercayaan yang berlebihan, ketidakmampuan menikmati, mensyukuri hidup, merasa sebagai Tuhan, orang kuat dan lain-lain.
                              5)          Dimensi sosial
Harga diri rendah, persepsi tidak realitis, curiga dan tidak percaya, sosial ekonomi rendah, isolasi sosial menarik diri, dan kadang-kadang suka mendominasi pembicaraan.
Menurut Wilkinson (2005), data yang diperoleh tentang perilaku  kekerasan dari pengkajian meliputi : usia 45 tahun mempunyai resiko lebih tinggi, menunjukkan perilaku (menulis cacatan putus cinta, putus asa, peningkatan kecemasan, marah dan permusuhan)

b.      POHON MASALAH

 

               






















 











c.     MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
1)      Masalah keperawatan :
(1)   Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
(2)   Kerusakan komunikasi : verbal
(3)   Perubahan isi pikir : waham
(4)   Gangguan konsep diri : harga diri rendah.

2)      Data yang perlu dikaji :
(1)     Resiko tinggi mencederai diri, orang lain dan lingkungan
a)         Data subjektif
Klien memberi kata-kata ancaman, mengatakan benci dan kesal pada seseorang, klien suka membentak dan menyerang orang yang mengusiknya jika sedang kesal, atau marah, melukai / merusak barang-barang dan tidak mampu mengendalikan diri
b)        Data objektif
Mata merah, wajah agak merah, nada suara tinggi dank eras, bicara menguasai, ekspresi marah, pandangan tajam, merusak dan melempar barang-barang.
(2)     Kerusakan komunikasi : verbal
a)         Data subjektif
Klien mengungkapkan sesuatu yang tidak realistik
b)        Data objektif
Flight of ideas, kehilangan asosiasi, pengulangan kata-kata yang didengar dan kontak mata kurang
(3) Perubahan isi pikir : waham ( ………….)
a)         Data subjektif :
Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama, kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya) berulang kali secara berlebihan tetapi tidak sesuai kenyataan.
b)        Data objektif :
Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak (diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah klien tegang, mudah tersinggung


(4) Gangguan harga diri rendah
a)         Data subjektif
Klien mengatakan saya tidak mampu, tidak bisa, tidak tahu apa-apa, bodoh, mengkritik diri sendiri, mengungkapkan perasaan malu terhadap diri sendiri
b)        Data objektif
Klien terlihat lebih suka sendiri, bingung bila disuruh memilih alternative tindakan, ingin mencedaerai diri/ ingin mengakhiri hidup

d.      Diagnosa Keperawatan
1)   Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
2)   Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan  berhubungan dengan waham
3)   Perubahan isi  pikir : waham(……………..)berhubungan dengan harga diri rendah.

e.       Rencana Keperawatan
Diagnosa 1
Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan waham
1)      Tujuan umum : Klien tidak terjadi kerusakan komunikasi verbal
2)      Tujuan khusus :
1.    Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
Rasional : hubungan saling percaya merupakan dasar untuk kelancaran hubungan interaksinya
Tindakan :
1.1.     Bina hubungan. saling percaya: salam terapeutik, perkenalkan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat kontrak yang jelas topik, waktu, tempat).
1.2.     Jangan membantah dan mendukung waham klien: katakan perawat menerima keyakinan klien "saya menerima keyakinan anda" disertai ekspresi menerima, katakan perawat tidak mendukung disertai ekspresi ragu dan empati,  tidak membicarakan isi waham klien.
1.3.     Yakinkan klien berada dalam keadaan aman dan terlindungi: katakan perawat akan menemani klien dan klien berada di tempat yang aman, gunakan keterbukaan dan kejujuran jangan tinggalkan klien sendirian.
1.4.     Observasi apakah wahamnya mengganggu aktivitas harian dan perawatan diri

2.    Klien dapat mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki
Rasional :  dengan mengetahui kemampuan yang dimiliki klien, maka akan memudahkan perawat untuk mengarahkan kegiatan yang bermanfaat bagi klien dari pada hanya memikirkannya
Tindakan :
2.1.   Beri pujian pada penampilan dan kemampuan klien yang realistis.
2.2.   Diskusikan bersama klien kemampuan yang dimiliki pada waktu lalu dan saat ini yang realistis.
2.3.   Tanyakan apa yang biasa dilakukan kemudian anjurkan untuk melakukannya saat ini (kaitkan dengan aktivitas sehari ‑ hari dan perawatan diri).
2.4.   Jika klien selalu bicara tentang wahamnya, dengarkan sampai kebutuhan waham tidak ada. Perlihatkan kepada klien bahwa klien sangat penting.

3.    Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Rasional : dengan mengetahui kebutuhan klien yang belum terpenuhi perawat dapat merencanakan untuk memenuhinya dan lebih memperhatikan kebutuhan kien tersebut sehungga klien merasa nyaman dan aman
Tindakan :
3.1.   Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
3.2.   Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
3.3.   Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
3.4.   Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
3.5.   Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk menggunakan wahamnya.

4.    Klien dapat berhubungan dengan realitas
Rasional : menghadirkan realitas dapat membuka pikiran bahwa realita itu lebih benar dari pada apa yang dipikirkan klien sehingga klien dapat menghilangkan waham yang ada
Tindakan :
4.1.   Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain, tempat dan waktu).
4.2.   Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
4.3.   Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien

5.    Klien dapat menggunakan obat dengan benar
Rasional : Penggunaan obat yang secara teratur dan benar akan mempengaruhi proses penyembuhan dan memberikan efek dan efek samping obat
Tindakan :
5.1.   Diskusikan dengan kiten tentang nama obat, dosis, frekuensi, efek dan efek    samping minum obat.
5.2.   Bantu klien menggunakan obat dengan priinsip 5 benar (nama pasien, obat,    dosis, cara dan waktu).
5.3.   Anjurkan klien membicarakan efek dan efek samping obat yang dirasakan.
5.4.   Beri reinforcement bila klien minum obat yang benar.

6.    Klien dapat dukungan dari keluarga
Rasional : dukungan dan perhatian keluarga dalam merawat klien akan mambentu proses penyembuhan klien
Tindakan :
6.1.   Diskusikan dengan keluarga melalui pertemuan keluarga tentang: gejala  waham, cara merawat klien, lingkungan keluarga dan  follow up obat.
6.2.   Beri reinforcement atas keterlibatan keluarga


DAFTAR PUSTAKA

Aziz, R dkk. 2003. Pedoman Asuhan Keperawatan Jiwa. Semarang: RSJD Dr. Amino Gondoutomo
Keliat, Budi A. 1999. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 1. Jakarta : EGC
- . 2009. Model Praktik Keperawatan Professional Jiwa. Jakarta : EGC
Tim Direktorat Keswa. 2000. Standart Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa Edisi 1. Bandung : RSJP
Townsend, M.C. 1998. Diagnosa Keperawatan pada Keperawatan Psikiatri Pedoman untuk Pembuatan Rencana Keperawatan. Jakarta: EGC

Tidak ada komentar:

Posting Komentar