Rabu, 20 Mei 2015

Diet Rendah Purin karena Asam Urat berlebih (GOUT ARTRITIS)

ASAM URAT BERLEBIH

Asam urat adalah produk akhir dari metabolisme protein (purin). Kandungan normal asam urat menurut WHO yakni pada pria 3,5- 7 mg/dl dan pada wanita 2,6 mg/dl.
Jika konsentrasi asam urat yang larut dalam darah berlebih, maka akan mengakibatkan pengendapan kristal asam urat pada sendi (Gout) sehingga menimbulkan peradangan sendi (artritis) yang ditandai dengan nyeri sendi secara mendadak, biasanya timbul pada malam hari, nyeri hebat, bengkak, kemerahan dan panas pada daerah sendi yang terkena (contoh sendi ibu jari kaki), badan demam, dan menggigil.
Penyebab dari Gout Artritis yakni pengeluaran kadar asam urat keluar tubuh berkurang, faktor resiko seperti gangguan fungsi ginjal, hipertensi (tekanan darah tinggi), obesitas (kelebihan berat badan), pola makan yang tinggi purin / protein, konsumsi air putih yang kurang, usia dan jenis kelamin.
 Perubahan gaya hidup, konsumsi obat tertentu dan menghindari makanan yang berkadar purin tinggi dapat mengendalikan asam urat. Berikut ini kandungan protein/ purin yang tinggi yang telah dikelompokkan:
Kelompok 1 kadungannya tinggi 100-1000 mg/100g, perlu dihindari beberapa contohnya yakni otak, hati, jantung, jeroan, ekstrak daging/ kaldu, daging bebek, sarden, makarel dan kerang.





Kelompok 2 kandungannya sedang 9-100 mg/100g, boleh di konsumsi namun tidak berlebihan dan dibatasi beberapa contoh seperti ayam udang, tahu, tempe, asparagus, bayam, daun singkong, kangkung, daun dan biji melinjo, kembang kol, kubis.







Kelompok 3 kandungan rendah nasi, ubi, jagung, roti, bihun, kue kering, puding, susu skim, telur, sayuran dan buah kecuali yang disebutkan dalam kelompok 2.

Pendidikan kesehatan

PENDIDIKAN KESEHATAN

A.    Pengertian
Berikut ini akan dikemukan beberapa pengertian pendidikan  yang dikemukan oleh para ahli yaitu :
a.       Wood (1926) dalam defini yang dikemukakan (Hanlon, hlm. 578) yang dikutip Tafal, (1984) mengemukakan bahwa pendidikan kesehatan sebagai sekumpulan pengalaman yang mendukung kebiasan, sikap, dan pengetahuan yang berhubungan dengan kesehatan invidua, masyarakat, dan ras.
b.      . Sturt (1968) dalam definsi yang dikemukakan yaitu m engatakn bahwa Pedidikan kesehatan adalah komponen program kesehatan dan kedokteran yang dan bterdiri atas upaya terencana untuk mengubah perilaku individu, kelompok maupun masyarakat yang merupakan perubahan cara berpikir, bersikap dan berbuat dengan tujuan membantu pengobatan, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan promosi hidup.
c.       Pendidikan kesehatan adalah suatu upaya atau kegiatan untuk menciptakan perilaku masyarakat yang kondusif untuk kesehatan. Artinya, pendidikan kesehatan berupaya agar masyarakat menyadari atau mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatan mereka, bagaimana menghindari atau mencegah hal – hal yang merugikan kesehatan mereka dan kesehatan orang lain, kemana seharusnya mencari pengobatan jika sakit, dan sebagainya. (Notoatmodjo, 2007: 12)
  1. Nyswander (1947) yang dikutip Notoatmodjo menyatakan bahwa pendidikan kesehatan adalah proses perubahan perilaku yang dinamis, bukan proses pemindahan materi dari seseorang ke orang lain dan bukan pula seperengkat prosedur.




B.     Tujuan pendidikan kesehatan
Menurut Benyamin Bloom (1908) tujuan pendidikan adalah mengembangkan atau meningkatkan 3 domain perilaku yaitu kognitif (cognitive domain), afektif (affective domain), dan psikomotor (psychomotor domain). (Notoatmodjo, 2003: 127)
Menurut Notoatmodjo (2007: 139) dalam perkembangannya, teori Bloom ini dimodifikasi untuk pengukuran hasil pendidikan kesehatan, yakni:
1.      Pengetahuan (knowledge)
Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting dalam membentuk tindakan seseorang (overt behaviour). Pengetahuan yang tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan:
a.       Tahu (know)
Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b.      Memahami (comprehension)
Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.
c.       Aplikasi (aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi real (sebenarnya).
d.      Analisis (analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen – komponen, tetapi masih didalam struktur organisasi dan masih ada kaitannya satu sama lain.
e.       Sintesis (synthesis)
Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian – bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru.


f.       Evaluasi (evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek.
2.      Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulus atau obyek. Sikap terdiri dari berbagai tingkatan yaitu:
a.       Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
b.      Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap.
c.       Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat tiga.
d.      Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang paling tinggi.
3.      Praktik atau tindakan (practice)
Praktik ini mempunyai beberapa tingkatan:
a.       Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai obyek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama.
b.      Respon terpimpin (guided response)
Dapat dilakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan sesuai dengan contoh adalah merupakan indikator praktik tingkat dua.
c.       Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat tiga.
d.      Adopsi (adoption)
Adopsi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasikannya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

C.    Ruang lingkup pendidikan kesehatan
Ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dilihat dari berbagai dimensi, antara lain dimensi sasaran pendidikan kesehatan, tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan, dan tingkat pelayanan pendidikan kesehatan. (Herawani dkk, 2001: 4).
1.      Sasaran pendidikan kesehatan
Dari dimensi sasaran, ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat dibagi menjadi 3 kelompok yaitu:
a.       Pendidikan kesehatan individual dengan sasaran individu
b.      Pendidikan kesehatan kelompok dengan sasaran kelompok
c.       Pendidikan kesehatan masyarakat dengan sasaran masyarakat
2.      Tempat pelaksanaan pendidikan kesehatan
Menurut dimensi pelaksanaannya, pendidikan kesehatan dapat berlangsung diberbagai tempat sehingga dengan sendirinya sasarannya juga berbeda. Misalnya:
a.       Pendidikan kesehatan di sekolah, dilakukan di sekolah dengan sasaran murid, yang pelaksanaannya diintegrasikan dalam upaya kesehatan sekolah (UKS)
b.      Pendidikan kesehatan di pelayanan kesehatan, dilakukan di pusat kesehatan masyarakat, balai kesehatan, rumah sakit umum maupun khusus dengan sasaran pasien dan keluarga pasien
c.       Pendidikan kesehatan di tempat – tempat kerja dengan sasaran buruh atau karyawan.



3.      Tingkat pelayanan pendidikan kesehatan
Dalam dimensi tingkat pelayanan kesehatan, pendidikan kesehatan dapat dilakukan berdasarkan lima tingkat pencegahan (five levels of prevention) dari Leavel dan Clark, yaitu:
a.       Promosi kesehatan (health promotion)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan misalnya dalam kebersihan perorangan, perbaikan sanitasi lingkungan, pemeriksaan kesehatan berkala, peningkatan gizi, dan kebiasaan hidup sehat.
b.      Perlindungan khusus (specific protection)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat. Misalnya tentang pentingnya imunisasi sebagai cara perlindungan terhadap penyakit, pada anak, maupun orang dewasa.
c.       Diagnosa dini dan pengobatan segera (early diagnosis  and prompt  treatment)
 Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena rendahnya tingkat pengetahuan dan kesadaran masyarakat akan kesehatan dan penyakit yang terjadi dimasyarakat.
d.      Pembatasan cacat (disability limitation)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena masyarakat sering didapat tidak mau melanjutkan pengobatannya sampai tuntas atau tidak mau melakukan pemeriksaan dan pengobatan penyakitnya secara tuntas. Pada tingkat ini kegiatan meliputi perawatan untuk menghentikan penyakit, mencegah komplikasi lebih lanjut, serta fasilitas untuk mengatasi cacat dan mencegah kematian.
e.       Rehabilitasi (rehabilitation)
Pada tingkat ini pendidikan kesehatan diperlukan karena setelah sembuh dari suatu penyakit tertentu, seseorang mungkin menjadi cacat. Untuk memulihkan kecacatannya itu diperlukan latihan – latihan. Untuk melakukan suatu latihan yang baik dan benar sesuai program yang ditentukan, diperlukan adanya pengertian dan kesadaran dari masyarakat yang bersangkutan.

D.    Metode pendidikan kesehatan
Dibawah ini akan diuraikan beberapa metode pendidikan individual, kelompok, dan massa (public). (Notoatmodjo, 2003: 104)
1.      Metode pendidikan individual (perorangan)
Dalam pendidikan kesehatan, metode pendidikan yang bersifat individual ini digunakan untuk membina perilaku baru, atau seseorang yang telah mulai tertarik kepada suatu perubahan perilaku atau inovasi. Dasar digunakannya pendekatan individual ini disebabkan karena setiap orang mempunyai masalah atau alasan yang berbeda – beda sehubungan dengan penerimaan atau perilaku baru tersebut.  Bentuk dari pendekatan ini antara lain: a. bimbingan dan penyuluhan (guidance and counseling),  b. wawancara (interview).
2.      Metode pendidikan kelompok
Dalam memilih metode pendidikan kelompok harus mengingat besarnya kelompok sasaran serta tingkat pendidikan formal pada sasaran. Untuk kelompok yang besar metodenya akan lain dengan kelompok kecil. Efektifitas suatu metode akan tergantung pula pada besarnya sasaran pendidikan.
a.       Kelompok besar
Yang dimaksud kelompok besar disini adalah apabila peserta penyuluhan itu lebih dari 15 orang.  Metode yang baik untuk kelompok besar ini antara lain ceramah dan seminar.
b.      Kelompok kecil
Apabila peserta kegiatan itu kurang dari 15 orang disebut kelompok kecil. Metode – metode yang cocok untuk kelompok kecil ini antara lain diskusi kelompok, curah pendapat(brain storming), bola salju (snow bolling), kelompok kecil – kecil (bruzz group), memainkan peran (role play), permainan simulasi (simulation game).
3.      Metode pendidikan massa (public)
Metode pendidikan (pendekatan) massa untuk mengkomunikasikan pesan – pesan kesehatan yang ditujukan kepada masyarakat yang sifatnya massa atau public, maka cara yang paling tepat adalah pendekatan massa.
Pada umumnya bentuk pendekatan (cara) massa ini tidak langsung. Biasanya menggunakan atau melalui media massa. Contoh metode ini antara lain: ceramah umum(public speaking).

E.     Pengelolaan pembelajaran dalam pendidikan kesehatan
Pengelolaan pembelajaran dalam pendidikan kesehatan harus memperhatikan aspek-aspek berikut :
1.      Proses belajar mencakup kegiatan latihan dalam memperoleh tingkah laku baru.
2.      Kegiatan belajar dapat dilaksanakan dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja dengan berfokus pada aspek kemandirian peserta didik sehingga pengajar harus menciptakan kondisi dan stimulus tertentu agar peserta didik mau belajar mandiri dan mengubah perilaku sehat sehat atas kemauannya sendiri.
3.      Peserta didik dipandang sebagai orang dewasa, sehingga pengelolaan proses belajar  yang digunakan harus sesuai dengan kondisi peserta didik
F.     Perencanaan Pendidikan Kesehatan (Penyuluhan)
Perencanaan penyuluhan kesehatan meliputi :
1.      Pengenalan lokasi penyuluhan
a.       Mengenal masyarakat
Sasaran program adalah masyarakat sehingga siapapun yang merencanakan program harus mengenal masyarakat dalam segala segi kehidupannya. Dalam perencanaan ini, variabel masyarakat yang perlu diketahui adalah jumlah penduduk, keadaan sosial budaya dan ekonomi masyarakat, pola komunikasi di masyarakat, Sumber daya mencakup sumber daya yang dimiliki masyarakat, sumber daya apa yang ada, sumber daya apa yang ada dan dapat digunakan untuk pelaksanaan kegiatan penyuluhan, melibatkan petugas kesehatan dalam melaksanakan penyuluhan bagi program bersangkutan, bagaimana pengalaman masyarakat terhadap program- program sebelumnya.
b.       Mengenal wilayah,
Program dapat dilaksanakan dengan baik, jika perencana program mengetahui benar situasi lapangan. Hal-hal yang perlu diketahui berhubungan dengan wilayah adalah lokasinya (apakah terpencil, daerah datar atau pegunungan, dan jalur transportasi umum) dan sifatnya (yaitu periode penghujan atau kemarau, daerah kering atau cukup air, daerah banjir, dan daerah perbatasan).
2.      Menentukan prioritas
Prioritas dalam penyuluhan harus sejalan dengan prioritas masalah yang ditentukan oleh program yang ditunjang. Penentuanprioritas didasarkan pada beratnya dampak dan masalah tersebut sehingga perlu diprioritaskan penanggulangannya, pertimbangan politis, dan sumber daya yang ada.
3.      Menentukan tujuan penyuluhan
Apa pun tujuan yang akan dipilih, hal terpenting adalah tujuan harus jelas, realistis (bisa dicapai), dan dapat diukur. Jib program sekarang yang akan dikembangkan segi penyuluhannya sudah berjalan beberapa lama, perlu diperhatikan seberapa jauh penyuluhan waktu 1alu, tujuan penyuluhan waktu itu, apa kegiatan dan bagaimana hasil penyuluhan waktu itu. Berdasarkan informasi tersebut, tentukan tujuan penyuluhan yang akan dikembangkan sekarang.




4.      Menentukan sasaran penyuluhan
Sasaran program dan sasaran penyuluhan tidaklah selalu sama. Dalam penyuluhan, yang dimaksud sasaran adalah individu atau kelompok yang akan diberi penyuluhan. Penentuan kelompok sasaran menyangkut pula strategi.
5.      Menentukan isi penyuluhan
Isi harus dituangkan ke dalam bahasa yang mudah dipahami oleh sasaran, dapat dilaksanakan oleh sasaran dengan sarana yang mereka miliki, atau terjangkau oleh sasaran. Dalam menyusun isi penyuluhan, harus dikemukakan keuntungan jika sasaran melaksanakan apa yang dianjurkan dalam penyuluhan tersebut dan perlu dipahami dasar-dasar komunikasi.
6.      Menentukan metode penyuluhan yang akan digunakan
Metode atau cara bergantung pada aspek atau tujuan apa yang akan dicapai, apakah aspek pengertian, sikap, atau keterampilan. Jika tujuan yang akan dicapai adalah aspek pengertian, pesan cukup disampaikan dengan lisan atau disampaikan melalui tulisan. jika tujuan untuk mengembangkan sikap positif, sasaran perlu menyaksikan kejadian tersebut, baik melihat langsung, melalui film, slide, maupun foto.
7.       Memilih alat peraga atau media penyuluhan
Setelah menentukan metode, selanjutnya tentukan media apa yang akan digunakan untuk menunjang pendekatan tadi, misalnya poster, leaflet, atau media lain.
8.      Menyusun rencana penilaian (evaluasi)
a.       Pastikan dalam tujuan yang telah dijabarkan sudah secara khusus dan jelas mencantumkan waktu evaluasi, tempat pelaksanaan evaluasi, dan kelompok sasaran yang akan dievaluasi.
b.      Apa jenis indikator atau kriteria yang akan dipakai dalam penilaian.
c.       Perlu dilihat kembali, apakah tujuan penyuluhan sudah sejalan dengan tujuan program.
d.      Kegiatan-kegiatan penyuluhan apa yang akan dievaluasi.
e.       Metode dan instrumen apa yang akan digunakan untuk evaluasi tersebut.
f.       Siapa yang akan melaksanakan evaluasi.
g.      Sarana-sarana apa (alat, biaya, tenaga, dan lain-lain) yang diperlukan untuk evaluasi, dan tempat sarana tersebut diperoleh.
h.      Apakah terdapat fasilitas dan kesempatan untuk mempersiapkan tenaga-tenaga yang akan melaksanakan evaluasi tersebut.
i.        Bagaimana rencana untuk memberikan umpan balik hasil evaluasi ini kepada para pimpinan program.
9.      Menyusun rencana kerja atau rencana pelaksanaan
Setelah menetapkan pokok-pokok kegiatan penyuluhan termasuk waktu, tempat, dan pelaksanaan, buat jadwal pelaksanaannya yang dicantumkan dalam suatu daftar.


Konsep Dasar Keperawatan Komunitas

BAB II
TINJAUAN TEORI

A.   Lingkup Keperawatan Komunitas
Lingkup praktik keperawatan komunitas berupa asuhan keperawatan langsung dengan fokus pemenuhan kebutuhan dasar komunitas yang terkait kebiasaan / perilaku dan pola hidup tidak sehat sebagai akibat ketidakmampuan masyarakat beradaptasi dengan lingkungan internal dan eksternal. Asuhan keperawatan komunitas menggunakan pendekatan proses keperawatan komunitas, yang terdiri atas pengkajian, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi dengan entry point pada individu keluarga, kelompok atau komunitas (Achjar, 2012).
B.   Pengkajian Keperawatan Komunitas
Pengkajian asuhan keperawatan komunitas terdiri atas dua bagian utama, yaitu inti komunitas (core) dan delapan subsistem yang melengkapinya. Inti komunitas menjelaskan kondisi penduduk yang dijabarkan dalam demografi, vital statistik, sejarah komunitas, nilai dan keyakinan, serta riwayat komunitas, sedangkan delapan subsistem lainnya meliputi lingkungan fisik, pendidikan, keamanan dan transportasi, politik dan pemerintah, layanan kesehatan dan sosial, komunikasi, ekonomi dan rekreasi (Achjar, 2012).
Komponen lingkungan fisik yang dikaji meliputi lingkungan sekolah dan tempat tinggal yang dapat mempengaruhi kesehatan, batasan wilayah, luas daerah, denah atau peta wilayah, iklim, jumlah dan kepadatan penduduk, kesehatan lingkungan, dan kegiatan penduduk sehari-hari. Lingkungan fisik juga dapat dikaji melalui wienshield survey (Achjar, 2012).

Data yang dikaji dari subsistem layanan kesehatan dan sosial meliputi fasilitas di dalam komunitas dan di luar komunitas. Layanan kesehatan meliputi ketersediaan layanan kesehatan, bentuk layanan, jenis layanan, sumber daya karakteristik konsumen, statistik, pembayaran, waktu pelayanan, kemanfaatan, keterjangkauan, keberlangsungan, dan keberterimaan layanan di komunitas. layanan sosial dapat meliputi layanan konseling, panti wreda bagi lansia, pusat perbelanjaan, dan lain-lain yang merupakan sistem pendukung bagi komunitas dalam menyelesaikan masalah kesehatan. Pengkajian layana kesehatan dan sosial juga meliputi kebijakan dari pemerintah setempat terhadap kedua layanan tersebut (Achjar, 2012).
Pada subsistem ekonomi dikaji pendapatan penduduk, rata-rata penghasilan, status pekerjaan, jenis pekerjaan, sumber penghasilan, jumlah penduduk miskin, keberadaan industri, toko/ pusat perbelanjan, dan tempat komunitas bekerja, dan bantuan dana untuk pemeliharaan kesehatan. Komponen ini mempermudah komunitas memperoleh bahan makanan dam sebagainya (Achjar, 2012).
Sementara itu, pada komponen politik dan pemerintahan dikaji situasi politik dan pemerintahan di komunitas, peraturan dan kebijakan pemerintah daerah terkait kesehatan komunitas, dan adanya program kesehatan yang ditunjukan pada peningkatan kesehatan komunitas (Achjar, 2012).
Pengkajian subsistem komunikasi meliputi media informasi yang dimanfaatkan, bagaimana komunikasi yang sering dimanfaatkan masyarakat, orang-orang yang berpengaruh, keikutsertaan dalam pendidikan kesehatan, bagaimana bisanya komunitas memperoleh informasi tentang kesehatan, adakah perkumpulan atau wadah bagi komunitas sebagai sarana untuk mendapatkan informasi, dari siapa komunitas mendapatakan informasi tentang kesehatan, dan adakah sarana komunikasi formal dan informal di komunitas (Achjar, 2012).
Komponen pendidikan meliputi status pendidikan masyarakat, ketwrsediaan dan keterjangkauan sarana pendidikan, fasilitas pendidikan yang ada di komunitas, jenis pendidikan, tingkat pendiddikan dan komunitas yang buta huruf (Achjar, 2012).
Pengkajian subsistem rekreasi diarahkan pad kebiasaan komunitas berekreasi, aktivitas di luar rumah termasuk dalam mengisi waktu luang dan jenis rekreasi yang dapat dimanfaatkan oleh komunitas, dan sarana penyaluran bakat komunitas. metode pengumpulan data pengkajian asuhan keperwatan komunitas antara lain windshield survey, informant interview, observasi partisipasi dan focus group discussion (FGD) (Achjar, 2012).
Windshield survey dilakukan dengan berjalan-jalan di lingkungan komunitas untuk menemukan gambaran tentang kondisi dan situasi yang terjadi di komunitas, lingkungan sekitar komunitas, kehidupan komunitas, dan karakteristik penduduk yang ditemui di jalan saat survei dilakukan (Achjar, 2012).
Informant interview, instrumen yang perlu dikembangkan untuk melakukan pengkajian terhadap masyarakat anatara lain kuesioner, pedoman wawancara, dan pedoman observasi. Untuk mendapatakan hasil yang akauarat dan agar masyarakat membina rasa percaya (trust) dengan perawat diperluka kontak yang lama dengan komunitas. perawat juga harus menyertakan lembar persetujuan (informed consent) komunitas yang dibubuhi tanda tangan atau  cap jempol setiap hari akan melakuakan tindakan yang membutuhkan persetujuan komunitas. informed consent juga mencantumkan jaminan kerahasiaan terhadap isi persetujuan dan pendapat yang telah disampaikan. Wawancara dilakukan keapada key informant atau tokoh yang mengusai program (Achjar, 2012).
Observasi partisipasi, setiap kegiatan kehidupan di komunitas perlu diobservasi. Tentukan berapa lama observasi akan dilakukan, apa, di mana, waktu, dan tempat komunitas yang akan diobservasi. Kegiatan observasi dapat dilakuakan menggunkan format observasi yang sudah disiapkan terlebih dahulu, kemudian catat semua yang terjadi, dengan tambahan penggunaan kamera atau video. Informasi yang penting diperoleh menyangkut aktivitas dan arti sikap atau tampilan yang ditemukan di komunitas. observasi dilakukan terhadap kepercayaan komunitas, norma, nilai kekuatan, dan proses pemecahan masalah di komunitas (Achjar, 2012).
Selain data primer, data sekunder yang diperoleh melalui laporan/dokumen yang sudah dibuat didesa/kelurahan, puskesmas, kecamatan, atau dinas kesehatan misalnya laporan tahunan puskesmas, monografi profil kesehatan, dsb, juga perlu dikumpulkan dari komunitas. setlah dikumpulkan dari pengkajian, selanjutnya dianalisis, sehingga perumusan diagnosis keperawatan dapat dilakukan (Achjar, 2012).






A.   Diagnosa Keperawatan Komunitas
Diagnosis dirumuskan terkait garis pertahanan yang mengalami kondisi terancam. Ancaman terhadap garis pertahanan fleksibel memunculkan diagnosis risiko; dan terhadap garis pertahankan resisten memunculkan diagnosis aktual/gangguan (Achjar, 2012).
Diagnosis keperawatan komunitas disusun berdasarkan jenis diagnosis, sebagai berikut.
1.    Diagnosis Sejahtera
Diagnosis sejahtera/wellness digunakan bila komunitas mempunyai potensi untuk ditingkatkan, belum ada data maladaptif. Perumusan diagnosis keperawatan komunitas potensial, hanya terdiri dari komponen problem (P) saja, tanpa komponen etiologi (E).
Contoh diagnosis sejahtera/wellness: Potensial peningkatan tumbuh kembang pada balita di RT 05 RW 01 desa X kecamatan A, ditandai dengan cakupan imunisasi 95% (kota 95%), 80% berat badan balita di atas garis merah KMS, 80% pendidikan ibu adalah SMA, cakupan Posyandu 95%.
2.    Diagnosis ancaman (risiko)
Diagnosis risiko digunakan bila berdapat belum terdapat paparan masalah kesehatan, tetapi sudah ditemukan beberapa data maladaptif yang memungkinkan timbulnya gangguan. Perumusan diagnosis keperawatan komunitas risiko terdiri atas problem (P), etiologi (E), dan symptom/sign (S).
Contoh diagnosa risiko: Risiko terjadinya konflik psikologis pada warga RT 05 RW 01 DESA x Kecamatan A yang berhubungan dengan koping masyarakat yang tidak efektif ditndai dengan pernah terjadi perkelahian antar RT, kegiatan gotong-royong dan silahturahmi rutin RW jarang dilakukan, penyuluhan kesehatan terkait kesehatan jiwa belum pernah dilakukan, masyarakat sering berkumpul dengan melakukan kegiatan yang tidak positif, seperti berjudi.
3.    Diagnosis aktual/gangguan
Diagnosis gangguan ditegakkan bila sudah timbul gangguan/masalah kesehatan di komunitas, yang didukung oleh beberapa data maladaptif. Perumusan diagnosis keperawatan komunitas aktual terdiri atas problem (P), etiologi (E), dan symptom/sign (S).
Contoh aktual/gangguan: diagnosis gangguan ditegakkan bila sudah timbul gangguan/masalah kesehatan di komunitas, yang didukung oleh beberapa data maladaptif. Perumusan diagnosis keperawatan komunitas aktual terdiri atas problem (P), etiologi (E), dan symptom/sign (S) (Achjar, 2012).
Contoh diagnosis aktual: gangguan/masalah kesehatan reproduksi pada agregat remaja yang berhubungan dengan kurangnya kebiasaan hiegene personal, ditandai dengan 92% remaja mengatakan mengalami keputihan patologis, upaya yang dilakukan remaja dalam mengatasi keputihan 80% didamkan saja, 92% remaja mengatakan belum pernah memperoleh informasi kesehatan reproduksi dari petugas kesehatan (Achjar, 2012).
Tingginya kasus diare di wilayah RW 05 kelurahan X yang berhubungan dengan tidak adekuatnya penggunaan fasilitas layanan kesehatan untuk penanggulangan diare, keterbatasan, dan kualitas sarana pelayanan diare (Achjar, 2012).
Setelah data dianalisis dan masalah keperawatan komunita  ditetapkan, prioritas masalah kesehatan komunits yang ada perlu ditetapkan bersama masyarakat melalui musyawarah masyarakat desa (MMD) atau lokakarya mini masyarakat. Prioritas masalah dibuat berdasarkan kategori dapat diatasi, kemudahan, dan kekhususan, mengingat banyaknya masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pemilihan masalah ini sangat penting dilakukan, agar implementasi yang dilakukan benar-benar bermanfaat bagi masyarakat dan secara tidak langsung akan membangun rasa percaya diri dan kompetensi masyarakat untuk mengatasi masalah yang lain (Achjar, 2012).
Penentuan prioritas masalah keperawatan komunitas dapat dilakukan melalui metode berikut.
a.    Paper and Pencil Tool
Contoh penentuan prioritas masalah keperawatan komunitas menggunakan Papper and Pencil Tool.

b.    Scoring diagnosis keperawatan komunitas
Contoh penentuan prioritas masalah keperawatan komunitas menggunakan metode skoring diagnosis keperawatan komunitas (Achjar, 2012).

B.   Intervensi Keperawatan Komunitas
Tahap berikutnya setelah merumuskan diagnosis keperawatan komunitas adalah melakukan perencanaan. Perencanaan diawali dengan merumuskan tujuan yang ingin dicapai serta rencana tindakan untuk mengatasi masalah yang ada. Tujuan dirumuskan untuk mengatasi atau meminimalkan stressor danervensi dirancang berdasarkan tiga tingkat pencegahan. Pencegahan primer untuk memperkuat garis pertahanan fleksibel, pencegahan sekunder untuk mempekuat garis pertahanan normal, dan pencegahan tersier untuk memperkuat garis pertahanan resisten (Achjar, 2012).
Tujuan terdiri atas tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Penetapan tujuan jangka panjang (tujuan umum/TUM) mengacu pada bagaimana mengatasi problem/masalah (P) di komunitas., sedangkan penetapan tujuan jangka pendek (tujuan khusus/TUK) mengacu pada bagaimana mengatasi etiologi (E). Tujuan jangka pendek harus SMART (S = spesifik, M = meassurable/dapat diukur, A = achievable/dapat dicapai, R = reality, T = time limited, punya limit waktu) (Achjar, 2012).

C.   Implementasi Keperawatan Komunitas
Implementasi merupakan langkah yang dilakukan setelah perencanaan program. Program dibuat untuk menciptakan keinginan berubah msayarakat. Sering kali, perencanaan program yang sudah baik tidak diikuti dengan waktu yang cukup untuk merencanakan implementasi. Implementasi melibatkan aktivitas tertentu sehingga program yang ada dapat dilaksanakan, diterima, dan direvisi jika tidak berjalan. Implementasi keperawatan dilakukan untuk mengatasi masalah kesehat komunitas menggunakan strategi proses kelompok, pendidikan kesehatana (empowerment). Perawat komunitas menggali dan meningkatkan potensi komunitas untuk dapat mandiri dan memelihara kesehatannya (Achjar, 2012).
Tujuan akhir setiap program di masyarakat adalah melakukan perubahan masyarakat. Program dibuat untuk menciptakan keinginan berubahdari anggota masyarakat. Perubahan nilai dan norma di masyarakat disebabkan oleh faktor eksternal, seperti adanya undang-undang, situasi politik, dan kejadian kritis eksternal masyarakat. Dukungan eksternal ini jug dapat dijadikan daya pendorong bagi tindakan kelompok untuk melakukan perubahan perilaku masyarakat. Organisasi eksternal dapat menggunakan model social planning dan locality development untuk melakukan perubahan, menggalakkan kemitraan dengan memanfaatkan sumber daya internal dan sumber daya eksternal (Achjar, 2012).
Perawat komunitas harus memiliki pengetahuan yang memadai agar dapat memfasilitasi perubahan dengan baik, termasuk pengetahuan tentang teori dan model berubah. Perubahan yang terjadi di masyarakat sebaiknya dimulai dari tingkat individu, keluarga, masyarakat, dan sistem di masyarakat. Ada beberapa model perubahan (Ervin, 2002), yaitu :
1.    Model Berubah Kurt Lewin
Proses berubah terjadi  pada saat individu, keluarga, dan komunitas tidak lagi nyaman dengan kondisi yang ada. Model ini terdiri dari:
a.       Unfreezing, bila ada perasaan butuh untuk berubah baru implementasi dilakukan, dengan tujuan membantu komunitas menjadi siap untuk melakukan perubahan.
b.      Change, yaitu intervensi mulai diperkenalkan kepada kelompok.
c.       Refreezing, meliputi bagaimana membuat suatu program menjadi stabil, melalui pemantauan dan evaluasi.
Contoh:  Pada kasus flu burung, saat unfreezing berubah menjadi refreezing, perawat komunitas perlu mempertahankan kondisi yang ada dengan melakukan kemitraan tentang bagaimana kebiasaan masyarakat yang sudah bagus dapat dipertahankan dan kebiasaan masyarakat yang kurang mendukung kesehatan tidak lagi terjadi, seperti kebiasaan tidak melakukan cuci tangan, dsb.

2.    Strategi berubah Chin & Benne
Strategi berubah ini sangat cocok digunakan oleh perawat komunitas dalam mengkaji  status individu, kelompok, dan masyarakat dalam membuat keputusan untuk berubah. Strategi ini merupakan strategi untuk melakukan perubahan di komunitas, bukan tahap proses berubah. Menurut model ini, untuk melakukan perubahan diperlukan strategi perubahan, yaitu:
a.    Rational empiris
Dikatakan bahwa untuk melakukan perubahan di komunitas, perlu terdapat fakta dan pertimbangan tentang seberapa besar keuntungan yang diperoleh dengan adanya perubahan tesebut. Contoh: adanya kebiasaan merokok yang banyak terjadi di masyarakat, terutama remaja, diperlukan peran perawat komunitas untuk memfasilitasi perubahan dengan seperti poster, leaflet, modul data kejadian kesakitan dan kematian akibat merokok atau mengajak melihat langsung kondisi korban akibat rokok. Dengan adanya fakta, diharapkan terjadi perubahan pada individu.
b.    Normative reedukatif, yaitu pertimbangan tentang keselarasan perubahan dengan norma yang ada di masyarakat.
c.    Power coercive, yaitu strategi perubahan yang menggunakan sanksi baik politik maupun sanksi ekonomi. Misalnya, sanksi terhadap perokok yang merokok di tempat umum berupa denda atau kurungan.
3.    First order and second order change
Menurut model ini, first oder bertujuan mengubah substansi atau isi di dalam sistem, sedangkan pada second order, perubahan ditujukan pada sistemnya.
Contoh : Adanya risiko pergaulan bebas yang saat ini marak di kalangan remaja, perawat komunitas perlu mengubah substansi yang ada dalam sistem (first order), seperti membentuk dan melatih kader kesehatan remaja (KKR) di sekolah dan di masyarakat, melakukan promosi kesehatan kepada siswa, guru, orang tua, dan masyarakat, melakukan dukungan lintas-sektor dan lintas-program kepada aparat terkait program melalui jaringan kemitraan, dsb. Selain itu,  diperlukan juga perubahan pada sistem (second order) termasuk fasilitas yang ada, seperti penyediaan klinik remaja, revitalisasi UKS di sekolah, kebijakan pemeintah terrkait remaja, dsb.
Mengukur adanya perubahan masyarakat pada tingkat individu, dapat diketahui dari tingkat kesadaran individu terhadap perubahan, bagaimana individu mengerti tentang masalah yang dihadapi, tingkat partisipasi individu, dan adanya perubahan dalam bentuk tingkah laku yang ditampilkan. Adanya role model yang ada di masyarakat dapat dijadikan pendorong untuk mengubah norma dan praktik individu dalam perubahan masyarakat.
Pada tingkat masyarakat, perubahan lebih difokuskan pada kelompok dan organisasi, termasuk adanya perubahan kebijakan yang berhubungan dengan masalah yang terjadi di masyarakat, adanya dukungan dan partisipasi dalam kegiatan masyarakat serta aktivitas lain yang dapat dievaluasi melalui pengembangan koalisi, partisipasi masyaakat dalam dukungan untuk  mencapai tujuan, dan perubahan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat.
Setiap akan melakukan kegiatan di masyarakat/implementasi program, sebaiknya dibuat dahulu laporan pendahuluan (LP) kegiatan asuhan kepeawatan komunitas, yang meliputi :
a.    Latar belakang, yang berisi kriteria komunitas, data yang perlu dikaji lebih lanjut terkait implementasi yang akan dilakukan, dan masalah keperawatan komunitas yang terkait implementasi saat ini.
b.    Proses kepeawatan komunitas, yang beisi diagnosis keperawatan komunitas, tujuan umum, dan tujuan khusus.
c.    Implementasi tindakan keperawatan, yang berisi topik kegiatan target kegiatan, metode, strategi kegiatan, media dan alat bantu yang dipergunakan, waktu dan tempat pelaksanaan kegiatan, pengorganisasian petugas kesehatan beseta tugas, susunan acara, setting tempat acara.
d.    Kkriteria evaluasi, yang berisi evaluasi struktur, evaluasi proses, dan evaluasi hasil dengan menyebutkan target presentase pencapaian hasil yang diinginkan.
Pelaksanaan kegiatan puskesmas, dilakukan berdasarkan  POA Perkesmas yang telah disusun. Pemantauan kegiatan perkesmas secara berkala dilaksanakan oleh Kepala Puskesmas dan Koordinator Perkesmas dengan melakukan diskusi tentang permasalahan yang dihadapi terkait pelaksanaan perkesmas serta melakukan penilaian setiap akhir tahun dengan membandingkan hasil pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang  telah disusun. Pembahasan masalah perkesmas dapat dilakukan dengan cara mengadakan kegiatan.
a.    Lokakarya Mini Bulanan
Lokakarya Mini Bulanan dilakukan setiap bulan di Puskesmas, dihadiri oleh staf Puskesmas dan unit penunjangnya untuk membahas kinerja internal Puskesmas termasuk cakupan, mutu, pembiayaan, masalah, dan hambatan yang ditemui termasuk pelaksanaan perkesmas dan kaitannya dengan masalah lintas-program lainnya.
b.    Lokakarya Mini Tribulanan
Lokakarya Mini Tribulanan dilakukan setiap 3 bulan sekali , dipimpin oleh camat dan dihadiri oleh staf puskesmas dan unit penunjangnya, instansi lintas-sektor tingkat kecamatan untuk membahas masalah dalam pelaksanaan puskesmas termasuk perkesmas terkait dengan lintas-sektor dan permasalhan yang terjadi untuk mendapatkan penyelesaiannya.
c.    Refleksi Diskusi Kasus (RDK)
Refleksi Diskusi Kasus (RDK) merupakan metode yang digunakan dalam merefleksikan pengalaman dalam satu kelompok diskusi untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman yang didasarkan atas standar yang berlaku. Proses diskusi ini memberikan ruang dan waktu bagi peserta diskusi untuk merefleksikan pengalaman masing-masing serta kemampuannya tanpa tekanan kelompok, terkondisi, setipa peserta saling mendukung, memberi kesempatan belajar terutama bagi peserta yang tidak terbiasa dan kurang percaya diri dalam menyampaikan pendapat (WHO 2003). RDK dilakukan minimal seminggu sekali, dihadiri oleh perawat perkesmas di puskesmas untuk membahas tehnis perkesmas dalam pemberian asuhan keperawatan komunitas kepada individu atau keluarga atau kelompok dan masyarakat agar pemahaman dan ketrampilan perawat komunitas lebih meningkat. Adapun persyaratan metode RDK adalah :
1)    Kelompok terdiri atas 5-8 orang
2)    Salah satu anggota kelompok berperan sebagai fasilitator, satu orang lagi menjadi penyaji, dan sisanya sebagai peserta.
3)    Posisi fasilitator, penyaji, dan peserta lain dalam diskusi setara (equal)
4)    Kasus yang disajikan oleh penyaji merupakan pengalaman yang terkait asuhan keperawatan dikomunitas yang menarik untuk dibahas dan didiskusikan perlu penanganan dan pemecahan masalah.
5)    Posisi duduk sebaiknya melingkar tanpa dibatasi oleh meja atau benda lainnya agar setiap peserta dapat saling bertatapan dan berkomunikasi secara bebas.
6)    Tidak boleh ada interuksi dan hanya satu orang saja yang berbicara dalam satu saat, peserta lainnya memperhatikan dan mendengarkan
7)    Tidak  diperkenalkan ada dominasi, kritik yang memojokkan peserta lainnya.
8)    Peserta berbagi (sharing) pengalaman selama satu jam dan dilakukan secara rutin.
9)    Setiap anggota secara bergiliran mendapatkan kesempatan sebagai fasilitator, penyaji dan anggota peserta diskusi.
10) Selama diskusi diusahakan agar tidak ada peserta yang tertekan dan terpojok yang diharapkan justru dukungan dan dorongan dari setiap peserta agar bisa menyampaikan pendapat mereka masing-masing (Achjar, 2012).
D.   Evaluasi
Evaluasi merupakn tahap akhir proses keperawatan. Evaluasi merupakan sekumpulan informasi yang sistemik berkenan dengan program kerja dan efektifitas dari serangkaian program yang digunakn masyarakat yang terkait program kegiatan, karakteristik, dan hasil yang telah dicapai (Achjar, 2012).
Program evaluasi dilakukan untuk memberikan informasi kepada perencanaan program dan pengambilan kebijakan tentang efektifitas dan efisien program. Evaluasi merupakan sekumpulan metode dan ketrampilan untuk menentukan apakah program sudah sesuai dengan rencana dan tuntunan masyarakat. Evaluasi digunakan untuk mengetahui seberapa tujuan yang ditetapkan telah tercapai dan apakah intervensi yang dilakukan efektif untuk msyarakat setempat sesuai dengan kondisi dan situasi masyarakat, apakah sesuai dengan rencana atau apakah dapat mengatasi masalah masyarakat. Evaluasi ditujukan untuk menjawab apa yang terjadi kebutuhan masyarakat dan program apa yang dibutuhkan masyarakat, apakah media yang digunakan tepat, ada tindakan program perencanaan yang dapat diimplementasikan apakah program dapat menjangkau masyarakat, siapa yang menjadi target sasaran program, apakah program yang dilakukan da[at memenuhi kebutuhan masyarakat. Evaluasi juga bertujuan mengidentifikasi masalah dan perkembangan program dan penyelesaiannya (Achjar, 2012).
Program evaluasi dilaksanakan untuk memastikan apakah hasil program sudah sejalan dengan tujuan dan sasaran, memastikan biaya program, sumberdaya, dan waktu pelaksanaan program yang telah dilakukan. Evaluasi juga diperlukan untuk memastikan apakah prioritas program yang disusun sudha memenuhi kebutuhna masyarakat dengan membandingkan perbedaan program terkait keefektifannya (Achjar, 2012).
Evaluasi dapat berupa evaluasi struktur, proses, dan hasil. Evaluasi program merupakan proses mendapatkan dan menggunakan informasi sebagai dasar proses pengambilan keputusan, dengan cara meningkatkan upaya pelayanan kesehatan. Evaluasi proses, difokuskan pada urutan kegiatan yang dilakukan untuk mendapatkan hasil. Evaluasi hasil dapat diukur melalui perubahan pengetahuan (Knowledge), sikap (attitude), dan perubahan perilaku masyarakat (Achjar, 2012).
Evaluasi terdiri atas evaluasi formatif, menghasilkan informasi untuk umpan balik selam program berlangsung. Sementara itu, evaluasi sumatif dilakukan setelah program selesai dan mendapatkan informasi tentang efektifitas pengambilan keputusan. Pengukuran efektifitas program dapat dilakukan dengan cara mengevaluasi kesuksesan dalam pelaksanaan program. Pengukuran efektifitas program di komunitas dapat dilihat berdasarkan:
a.    Pengukuran komunitas sebagai klien. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan cara mengukur kesehatan ibu dan anak mengukur kesehatan komunitas.
b.    Pengukuran komunitas sebagai pengalaman membina hubungan. Pengukuran dilakukan dengan cara melakukan pengukuran sosial dari determinan kesehatan.
c.    Pengukuran komunitas sebagai sumber. Ini dilakukan dengan mengukur tingkat keberhasilan pada keluarga atau masyarakat sebagai sumber informasi dan sumber intervensi kegiatan (Achjar, 2012).

DAFTAR PUSTAKA


Achjar, Komang Ayu Henny. Asuhan keperawatan komunitas: teori dari praktik. Jakarta: EGC; 2012