Minggu, 02 Februari 2014

ASKEP SINDROM TRAUMA PERKOSAAN



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembangunan di semua bidang, pergeseran pola masyarakat dari masyarakat agrikultur ke masyarakat industri dan dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern, serta tekanan arus  globalisasi/informasi yang diperberat dengan krisis ekonomi, sosial, politik, selain membawa kemajuan dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat, juga telah menimbulkan  berbagai  masalah. Masalah yang ditimbulkan, antara lain, terjadinya  pergeseran  nilai moral, kesenjangan keadaan sosial ekonomi, proporsi penduduk miskin yang makin besar, angka pengangguran yang makin tinggi, serta  berbagai masalah sosial lain  dan politik, sementara pemenuhan kebutuhan untuk bertahan hidup  makin sulit dilakukan. Kondisi ini mendukung  peningkatan tindak kekerasan,  terutama bagi golongan yang dianggap lemah  dan rentan yaitu wanita dan anak-anak.
Kasus kekerasan berupa tindakan pencurian, pemerasan, perkosaan, pembunuhan, narkotika, kenakalan remaja, penipuan, pengelapan, pengrusakan, perjudian, dan kebakaran (Roesdihardjo,1994). Tidak terhitung jumlah korban tindak kekerasan akibat tekanan sosial politik  yang terjadi di beberapa daerah tertentu di Indonesia, yang tidak saja meninggalkan beban materi, tetapi juga beban psikososial bahkan rendahnya kualitas kehidupan secara menyeluruh bagi korban dan keluarga serta masyarakat.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apa pengertian Sindrom Trauma Perkosaan?
2.    Apa Faktor Predisposisis Sindrom Trauma Perkosaan?
3.    Apa Faktor Presipitasi Sindrom Trauma Perkosaan?
4.    Apa Tanda dan Gejala Sindrom Trauma Perkosaan?
5.    Bagaimana Mekanisme Koping Sindrom Trauma Perkosaan?
6.    Apa Sumber Koping Sindrom Trauma Perkosaan?
7.    Bagaimana Penatalaksanaan Sindrom Trauma Perkosaan?
8.    Bagaimana Asuhan Keperawatan Sindrom Trauma Nefrotik?


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian
Keadaan dimana seseorang individu mengalami suatu paksaan, penyerangan kekerasan seksual (penetrasi vagina atau anus) terhadapnya dan tanpa persetujuannya. Sindrom trauma yang berkembang dari serangan ini atau upaya penyerangan termasuk suatu fase akut dari disorganisasi korban dan gaya hidup keluarga serta proses jangka panjang pengorganisasian kembali gaya hidup.

B.     Faktor Predisposisi
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya perilaku kekerasan  menurut teori biologik, teori psikologi, dan teori sosiokultural yang dijelaskan  oleh Towsend (1996 dalam Purba dkk, 2008) yaitu:
1.    Teori Biologik
a.    Neurobiologik
Ada 3 area pada otak yang berpengaruh terhadap proses impuls  agresif: sistem limbik, lobus frontal dan hypothalamus. Neurotransmitter juga mempunyai peranan dalam memfasilitasi atau menghambat proses impuls agresif. Sistem limbik merupakan sistem informasi, ekspresi, perilaku, dan memori. Apabila ada gangguan pada sistem ini maka akan meningkatkan atau menurunkan potensial perilaku kekerasan.
b.    Biokimia
Berbagai neurotransmitter (epinephrine, norepinefrine, dopamine, asetikolin, dan serotonin) sangat berperan dalam memfasilitasi atau menghambat impuls agresif. Teori ini sangat konsisten dengan fight atau flight yang dikenalkan oleh Selye dalam teorinya tentang respons terhadap stress.
c.    Genetik
Penelitian membuktikan adanya hubungan langsung antara perilaku agresif dengan genetik karyotype XYY.
d.   Gangguan Otak
Sindroma otak organik terbukti sebagai faktor predisposisi perilaku agresif dan tindak kekerasan. Tumor otak, khususnya yang menyerang sistem limbik dan lobus temporal, trauma otak, yang  menimbulkan perubahan serebral, dan penyakit seperti ensefalitis, dan epilepsy, khususnya lobus temporal, terbukti berpengaruh terhadap perilaku agresif dan tindak kekerasan.
2.    Teori Psikologik
a.    Teori Psikoanalitik
Teori ini menjelaskan tidak  terpenuhinya kebutuhan untuk mendapatkan kepuasan dan rasa aman dapat mengakibatkan tidak berkembangnya ego dan membuat konsep diri rendah. Agresi dan tindak kekerasan memberikan kekuatan dan prestise yang dapat meningkatkan citra diri dan memberikan arti  dalam kehidupannya. Perilaku agresif dan perilaku kekerasan merupakan pengungkapan secara terbuka terhadap rasa  ketidakberdayaan dan rendahnya harga diri.
b.    Teori Pembelajaran
Anak belajar melalui perilaku meniru. Jika orang tua yang mendisiplinkan anak mereka dengan hukuman fisik akan cenderung untuk berperilaku kekerasan setelah dewasa.
3.    Teori Sosiokultural
Faktor budaya dan struktur sosial sebagai pengaruh perilaku agresif.

C.    Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan  dengan (Yosep, 2009):
1.    Ekspresi diri, ingin menunjukkan  eksistensi diri atau simbol solidaritas seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian masal dan sebagainya.
2.    Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial ekonomi.
3.    Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4.    Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan dirinya sebagai seorang yang dewasa.
5.    Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi rasa frustasi.


D.    Tanda dan Gejala
Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan adalah sebagai berikut:
1. Fisik
a.    Muka merah dan tegang
b.    Mata melotot/ pandangan tajam
c.    Tangan mengepal
d.   Rahang mengatup
e.    Postur tubuh kaku
f.     Jalan mondar-mandir
2. Verbal
a.    Bicara kasar
b.    Suara tinggi, membentak atau berteriak
c.    Mengancam secara verbal atau fisik
d.   Mengumpat dengan kata-kata kotor
e.    Suara keras
f.     Ketus
3. Perilaku
a.    Melempar atau memukul benda/orang lain
b.    Menyerang orang lain
c.    Melukai diri sendiri/orang lain
d.   Merusak lingkungan
e.    Amuk/agresif
4. Emosi
a.    Tidak adekuat
b.    Tidak aman dan nyaman
c.    Rasa terganggu, dendam dan jengkel
d.   Tidak berdaya
e.    Bermusuhan
f.     Mengamuk, ingin berkelahi
g.    Menyalahkan dan menuntut

5. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.
6. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,  menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.
7. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.
8.  Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

E.     Mekanisme Koping
Mekanisme koping yang biasa digunakan adalah:
a)      Sublimasi, yaitu melampiaskan masalah pada objek lain.
b)      Proyeksi, yaitu menyatakan orang lain mengenal kesukaan/ keinginan tidak baik.
c)      Represif, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan melebihkan sikap/ perilaku yang berlawanan.
d)     Reaksi formasi, yaitu mencegah keinginan yang berbahaya bila diekspresikan dengan melebihkan sikap perilaku yang berlawanan.
e)      Displecement, yaitu melepaskan perasaan tertekan dengan bermusuhan pada objek yang berbahaya.
Perilaku kekerasan biasanya diawali dengan situasi  berduka yang berkepanjangan dari seseorang karna ditinggal oleh orang yang dianggap berpangaruh  dalam hidupnya. Bila kondisi tersebut tidak teratasi, maka dapat menyebabkan seseorang  harga diri rendah (HDR), sehingga sulit untuk bergaul dengan orang lain. Bila ketidakmampuan bergaul dengan orang lain tidak dapat diatasi maka akan muncul halusinasi berupa suara-suara atau bayang-bayangan  yang meminta klien untuk melakukan kekerasan.  Hal ini data berdampak  pada keselamatan  dirinya dan orang lain (resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan).
Selain diakibatkan oleh berduka yang berkepanjangan, dukungan keluarga yang kurang baik dalam mengahadapi kondisi klien dapat mempengaruhi perkembangan klien (koping keluarga tidak efektif). Hal ini yang menyebabkan klien sering keluar masuk RS atau menimbulkan kekambuhan karena dukungan keluarga tidak maksimal (regimen terapeutik inefektif).

F.     Sumber Koping
Sumber koping dapat berupa aset ekonomi, kemampuan & ketrampilan, dukungan sosial & motivasi, hubungan antar individu, keluarga, kelompok & masyarakat. Sumber koping lainnya termasuk kesehatan & energi, dukungan spiritual, keyakinan positif, ketrampilanmenyelesaikan masalah & sosial dan kesejahteraan fisik.

G.    Penatalaksanaan
a.    Farmakoterapi
Pengobatan dengan neuroleptika yang mempunyai dosis efektif tinggi. Contohnya cloropromazine mengendalikanpsikomotoriknya. Dosis efek rendah : Trifluoperasine estelasine, Transquilize. Obat anti psikotik seperti neurodeptika efek anti kejang, anti cemas dan anti agitasi.
b.    Terapi Okupasi
Kegiatan seperti membaca koran, main catur, rehabilitasi program kegiatan yang telah ditentukan.
c.    Peran Serta Keluarga
Keluarga merupakan sistem pendukung yang utama yang memberikan perawatan langsung pada setiap keadaab (sehat-sakit) klien.
d.   Terapi Somatik
Tujuannya mengubah perilaku yang mal adaptif menjadi adaptif dengan melakukan tindakan yang ditunjukkan pada kondisi fisik klien, tetapi target terapi adalah perilaku klien.
e.    Terapi Kejang Listrik
ECT bentuk terapi yang menimbulkan kejang grand mall dengan mengalirkan arus listrik melalui elektroda yang di tepatkan pada pelipis klien.

H.    Asuhan Keperawatan
                        I.          Identitas
a.    Klien
b.    Penanggung Jawab
           
                     II.          Keluhan Utama
Klien mengatakan tidak bisa tidur, mondar-mandir, merasa bingung, cemas dan takut. Klien marah jika merasa dirinya terganggu.
·      Masalah Keperawatan: Resiko Perilaku Kekerasan

                  III.          Alasan Masuk
Sebelum masuk rumah sakit klien dirumah bingung, gelisah dan tidak mengontrol diri, klien juga marah-marah jika dirinya terganggu. Kemudian oleh keluarganya dibawa ke Rumah Sakit untuk dirawat inap.
·      Masalah Keperawatan: Perilaku Kekerasan

                  IV.          Faktor Predisposisi
1.    Klien pernah mengalami gangguan jiwa sebelumnya dengan gejala binging, susah tidur, mondar-mandir, selalu takut, sedih.
2.    Klien gelisah, takut dan sering marah-marah karena trauma dengan perilaku kekerasan seksual.
3.    Klien mengatakan bahwa anggota keluarganya tidak ada yang mengalami gangguan jiwa.

                     V.          Pemeriksaan Fisik
1.    Tanda-tanda vital
TD       : 110/70mmHg            S : 36,40C                    TB : 159cm
N         : 78x/menit                  R : 23x/menit              BB : 50kg
2.  Kondisi Fisik
     Klien mengatakan kondisi tubuhnya saat ini baik-baik dan tidak ada keluhan fisik.


                  VI.          Psikososial
1.    Genogram
2.    Konsep Diri
a.       Citra Tubuh
Klien memndang terhadap dirinya ada bagian tubuh yang paling istimewa yaitu wajah, karena klien merasa wajahnya cantik.
b.      Identitas diri
Klien mempersepsikan dirinya sebagai anak perempuan dewasa dan belum menikah.
c.       Peran Diri
Klien mengatakan bahwa dalam keluarganya adalah anka yang disayang dilingkungan masyarakat. Klien juga aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan seperti karang taruna, pengajian pemuda, dll
d.      Ideal Diri
Klien mengatakan menerima statusnya sebagai seorang anak dan ingin cepat pulang dan bebas bisa kerja.
e.       Harga Diri
Klien mengatakan hubungan yang paling di sayang, paling dekat, dapat dipecya adalah ayah dan adiknya.
·           Masalah Keperawatan :Koping individu tidak efektif
3.    Hubungan Sosial
a.       Klien mengatakan mempunyai orang yang paling berarti yaitu ayah dan adiknya, apabila ada masalah klien memilih diam diri dan memendamnya.
b.      Klien mengatakan dalam kegiatan masyarakat, klien sering ikut karang taruna, pengajian pemuda.
4.    Spiritual
Klien mengatakan beragama islam dan klien mengatakan saat dirumah sakit tidak rutin dalam beribadah.

               VII.          Status Mental
1.      Penampilan
·      Klien tampak rapi, rambutnya panjang, kulit bersih.
·      Klien berpakaian sudah rapi, baju dan celana tidak terbalik.
2.      Pembicaraan
Klien ketika berbicara nada suara agak tinggi, komunikasi kurang terarah dari tema yang dibicarakan.
3.      Aktivitas Motorik
Pada kondisi sekarang klien terlihat tampak diam, gelisah, takut. Untuk saat ini klien mulai mampu mengendalikan emosinya.
4.      Interaksi Selama Wawancara
Saat diwawancara lien kooperatif, cenderung selalu mempertahankan pendapat dan kebenaran dirinya.
5.      Persepsi
Klien mengatakan tidak pernah mengalami persepsi apapun (halusinasi)
6.      Proses Pikir
Ppembicaraan klien tidak terarah tetapi sampai tujuan, sedikit bicara.
7.      Isi Pikir
8.      Tingkat Kesadaran
Orientasi waktu, tempat dan orang dapat disebutkan dengan benar dan jelas yang ditandai dengan klien mamapu menyebutkan hari, tanggal, tahun dengan benar.

            VIII.          Kebutuhan Persiapan Pulang
1.      Makan
Klien mampu makan dengan mandiri dengan cara yang baik seperti biasanya. Klien makan 3x sehari, minum ± 6 gelas/hari.
2.      Defekasi/berkemih
Klien BAB 1x sehari, BAK ± 5x sehari dan mampu melakukan eliminasi dengan baik, menjaga kebersihan setelah dari kamar mandi.
3.      Mandi
Klien mengatakan mandi 2x sehari pagi dan sore hari, menyikat gigi saat mandi, kebersihan tubuh baik.
4.      Berpakaian
Klien mengatakan ganti pakaian 1x sehari denagn pakaian yang disediakan rumah sakit.
5.      Istirahat dan tidur
Klien sedikit mengalami susah tidur, kadang tengah malam terbangun.
6.      Penggunaan obat
Klien mengatakan dirumah sakit selalu minum obat
7.      Aktivitas di dalam rumah
Klien bisa membantu pekerjaan rumah seperti mencuci, menyapu dll.
8.      Aktivitas di luar rumah

                  IX.          Aspek medik
Terapi Obat:
·      Phenidyl                                  2x2 mg
·      Pesperidon                               2x2 mg
·      CPZ (Cloropromazine)            1x100 mg
                       
                     X.          Masalah keperawatan
1.      Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan
2.      Perilaku kekerasan
3.      Mekanisme koping tidak efektif

                  XI.          Pohon masalah

Resiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan


 
                                     
Perilaku Kekerasan


Mekanisme Koping Tidak Efektif

               XII.          Diagnosa keperawatan
a.     Resiko Mencederai diri, orang lain dan lingkungan b.d Perilaku Kekerasan
b.    Perilaku Kekerasan b.d Mekanisme Koping Individu Tidak Efektif




            XIII.          Intervensi

DIAGNOSA KEPERAWATAN
PERENCANAAN
INTERVENSI
TUJUAN
KRITERIA HASIL
Resiko mencederai diri dan orang lain berhubungan dengan perilaku kekerasan
TUM:
Klien tidak mencederai diri sendiri
TUK:
1.  Klien dapat membina hubungan saling percaya





1.    Klien mau membalas salam
2.    Klien mau berjabat tangan
3.    Klien mau menyebutkan nama
4.    Klien mau tersenyum
5.    Klien mau kontak mata
6.    Klien mau tau nama perawat





1.    Beri salam
2.    Sebutkan nama perawat sambil jabat tangan
3.    Jelaskan maksud hubungan interaksi
4.    Jelaskan tentang kontrak yang akan dibuat
5.    Beri rasa aman dan sikap empati
6.    Lakukan kontak singkat tpi sering


2.  Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan




1.    Klien mengungkapkan perasaannya
2.    Klien dapat mengungkapkan penyebab marah
1.    Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya
2.    Bantu klien untuk mengungkapkan penyebab marah









3.  Klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekerasan
1.    Klien dapat mengungkapkan persaab saat marah
2.    Klien dapat menyimpulkan tanda dan gejala marah yang dialami
1.    Anjurkan klien mengungkapkan apa yang dirasakan saat marah
2.    Simpulkan bersama klien tanda dan gejala marah yang dialami klien











4.  Klien dapat mengidentifikasi perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
1.    Klien dapat mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
2.    Klien dapat bermain peran sesuai perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
3.    Klien dapat mengetahui cara yang biasa dilakukan untuk menyelesaikan masalah
1.    Anjurkan klien untuk mengungkapkan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan klien
2.    Bantu klien bermain peran sesuai dengan perilaku kekerasan yang biasa dilakukan
3.    Bicarakan dengan klien, apakah dengan cara yang klien lakukan masalahnya selesai














5.  Klien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan











1.    Klien dapat menjelaskan akibat dari cara yang digunakan klien:
·      Akibat pada klien sendiri
·      Akibat pada orang lain
·      Akibat pada Lingkungan
1.    Bicarakan akibat/kerugian dari cara yang dilakukan klien
2.    Bersama klien menyimpulakn akibat dari cara yang dilakukan oleh klien
3.    Tanyakan kepeda klien “apakah ia ingin mempelajari cara baru yang sehat”










































































6.  Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan
1.    Klien dapat menyebutkan contoh pencegahan perilaku kekerasan secara fisik:
·      Tarik napas dalam
·      Pukul kasur dan bantal
·      Dll: kegiatan fisik







2.    Klien dapat mendemonstrasikan cara fisik untuk mencegah perilaku kekerasan



















3.    Klien mempunyai jadwal untuk melatih cara pencegahan fisik yang telah dipelajari sebelumnya




4.    Klien mengevaluasi kemampuannya dalam melakukan cara fisik sesuai jadwal yang telah disusun
1.    Diskusikan kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
2.    Beri pujian atas kegiatan fisik yang biasa dilakukan klien
3.    Diskusikan dua cara fisik yang paling mudah dilakukan untuk mencegah perilaku kekerasan yaitu: tarik napas dalam dan pukul bantal serta kasur

1.    Diskusikan cara melakuakan napas dalam dengan klien
2.    Beri contoh pada klien cara menarik napas dalam
3.    Minta klien untuk mengikuti contoh yang diberikan sebanyak 3kali
4.    Beri pujian positif atas kemampuan klien dalam mendemonstrasikan cara menarik napas dalam
5.    Tanyakan perasaan klien setelah selesai
6.    Anjurkan klien untuk menggunakan cara yang telah dipelajari saat marah

1.    Diskusikan dengan klien mengenai frekuensi latihan yang akan dilakukan sendiri oleh klien
2.    Susun jadwal kegiatan untuk melatih cara yang telah dipelajari

1.    Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan, cara pencegahan perilaku kekerasan yang telah dilakukan dengan mengisi jadwal kegiatan harian
2.    Validasi kemampuan klien dalam melaksanakan latihan
3.    Berikan pujian atas keberhasilan klien
4.    Tanyakan pada klien:
“apakah kegiatan cara pencegahan perilaku kekerasan dapat mengurangi perasaan marah”











































7.  Klien dapat mendemonstrasikan cara sosial untuk mencegah perilaku kekerasan
1.    Klien dapat menyebutkan cara bicara (verbal) yang baik dalam mencegah perilaku kekerasan:
·      Meminta dengan baik
·      Menolak dengan baik
·      Mengungkapkan perasaan dengan baik


2.   Klien dapat mendemonstrasikan
cara verbal yang baik


























3.   Klien mempunyai jadwal untuk melatih bicara yang baik










4.   Klien melakukan evaluasi terhadap kemampuan cara bicara yang sesuai dengan jadwal yang telah disusun
1.    Diskusikan cara bicara yang baik dengan klien
2.    Beri contoh cara bicara yang baik:
·      Meminta dengan baik
·      Menolak dengan baik
·      Mengungkapkan perasaan dengan baik



1.   Minta klien mengikuti contoh cara bicara yang baik:
·      Meminta dengan baik
“Saya minta uang untuk beli makanan”
·      Menolak dengan baik
“Maaf saya tidak bisa melakukannya, karena ada kegiatan lain”
·      Mengungkapkan perasaan dengan baik
“Saya kesal karenapermintaan saya tidak dikabulkan”

2.   Minta klien mengulang sendiri
3.   Beri pujian atas keberhasilan klien

1.   Diskusikan dengan klien tentang waktu dan kondisi cara bicara yang dapat di latih diruangan, misalnya: meminta obat, baju, dll.
2.   Susun jadwal kegiatan untuk melatih cara bcara yang telah dipelajari


1.   Klien mengevaluasi pelaksanaan latihan cara bicara yang baik dengan mengisi jadwal kegiatan
2.   Validasi kemampuan klien dalam melaksanakan latihan
3.   Beri pujian atas keberhasilannya
4.   Tanyakan kepada klien
“Bagaimana perasaan klien setelah latihan cra bicara yang baik? Apakah keinginan marah berkurang?”

















            XIV.          Strategi Pelaksanaan
1.    Proses Keperawatan
a.    Kondisi klien
b.   Diagnosa keperawatan
c.    Tindakan keperawatan
2.    Strategi Komunikasi
SP 1: Membina hubungan saling percaya, identifikasi penyebab dan gejala marah
a.    Fase Orientasi
“Selamat pagi mbk, perkenalkan nama saya perawat Maharani Putri, panggil saya Putri, saya mahasiswa dari klaten. Nama mbk siapa, senangnya dipanggil apa?”
“Bagaimana persaan mbk hari ini? masih ada perasaan marah/kesal?”
“Baik mbk kita akan berbincang-bincang tentang persaan marah/kesal mbk saat ini”
“Berapa lama mbk mau kita berbincang-bincang?” bagaimana kalau 10 menit?” Dimana enaknya kita duduk untuk berbincang-bincang”?
b.   Fase Kerja
“Apa yang menyebabkan mbk marah? Apakah sebelumnya mbk pernah marah? Terus, penyebabnya apa? Samakah dengan sekarang?
O..iya, apakah ada penyebab lain yang membuat mbk marah?”
“Apa yang mbk rasakan?”
“Setelah itu apa yang mbk lakukan? O..iya, jadi mbk marah-marah membanting pintu. Apakah dengan cara itu stress mbk jadi hilang? Iya, tentu tidak. Ada kerugian cara yang mbk lakukan?
“Maukah mbk belajar cara mengungkapkan kemarahan yang baik tanpa menimbulkan kerugian”?
“Ada beberapa cara untuk mengontrol kemarahan mbk. Salah asatunya adalah dengan cara fisik. Jadi melalui kegiatan fisik disalurkan rasa marah”.
“Begini mbk, kalau tanda-tanda marah tadi sudah mbk rasakan maka mbk berdiri, lalu tarik napas lewat hidung, tahan sebentar lalu keluarkan perlahan-lahan melalui mulut. Nah, lakukan 3 kali ya mbk. Bagus sekali, mbk sudah bisa melakukannya. Bagaimana perasaannya?”
“Nah, sebaiknya latihan ini bapak lakukan secara rutin, sehinggan bila sewaktu-waktu rasa marah itu muncul bapak sudah terbiasa melakukannya.”
c.    Fase Terminasi
“Bagaimana persaan mbk setelah berbincang-bincang tentang kemarahan mbk?”
“Iya, jadi ada 2 penyebab mbk marah.... (sebutkan) dan yang bapak rasakan...(sebutkan) dan yang mbk lakukan....(sebutkan) serta akibatnya...(sebutkan)
“Coba selama saya tidak ada, ingat-ingat lagi penyebab marah mbk yang lalu, apa yang mbk lakukan kalau marah yang belum kita bahas dan jangan lupa latihan napas dalamnya ya, mbk.”
“Sekarang kita buat jadwal latihan ya mbk, berapa kali sehari mbk mau latihan napas dalam? Jam berapa saja mbk?”
“Bagaimana kalau besok lagi kita latihan cara yang lain untuk mencegah atau mengontrol marah mbk. Tempatnya disini ya mbk?
“Selamat pagi”.

               XV.          Evaluasi
1.      Klien dapat membina hubungan saling percaya
2.      Klien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku kekerasan
3.      Klien dapat mengidentifikasi tanda dan gejala perilaku kekersan
4.      Klien dapat mendemonstrasikan cara untuk mencegah perilaku kekerasan











BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Keadaan dimana seseorang individu mengalami suatu paksaan, penyerangan kekerasan seksual (penetrasi vagina atau anus) terhadapnya dan tanpa persetujuannya. Sindrom trauma yang berkembang dari serangan ini atau upaya penyerangan termasuk suatu fase akut dari disorganisasi korban dan gaya hidup keluarga serta proses jangka panjang pengorganisasian kembali gaya hidup.

























DAFTAR PUSTAKA

·         Proses Keperawatan Jiwa/Budi Anna Keliat.-Ed 2-Jakarta:EGC,2005

Tidak ada komentar:

Posting Komentar